Tabik pun, nabik tabik, tabik di kuti rumpok. Punyimbang tuha raja seunyinni. Sikandua haga numpang cawa. Cawa puuuuun.
Edisi kali ini kita membahas soal geliat Firmansyah Alfian. Buat wartawan-wartawan yang sempat meliput kiprahnya saat jadi legislator Golkar tahu persis, Firmansyah adalah politikus kelas tinggi. Bukan kaleng-kaleng.
Sudah bukan rahasia kalau legislator-legislator itu tidak semuanya pandai bicara dan berkomunikasi dengan media. Jadilah kemudian, ada anggota dewan yang sering diliput, ada yang selama menjabat boleh jadi tak pernah dikutip secuplik juga kalimatnya. Baca juga: Ratusan Sertifikat Warga Lamtim `Terkatung-katung`
Lain dengan Firman. Tongkrongan keren, ganteng, berasal dari keluarga terpandang dan tentu saja outspoken. Lentur lidah, tajam analisis dan kaya wawasan. Saat jadi pejabat, Firmansyah kerap jadi rujukan kuli tinta kalau sedang cari kutipan buat berita.
Tak dinyana, Firman malah terjerembab dihantam skandal. Laiknya yang sedang berkibar di pucuk tinggi, Firman dilantak badai. Kasus narkoba memukulnya jatuh hingga ke lubang terdalam. Dia masuk bui.
Firmansyah pernah bercerita, hari-harinya membayar dosa di sel prodeo dilewatinya dengan bergeletak di selasar kumuh penjara. "Saya nggak punya akses buat tidur di sel mewah," begitu kata dia. Baca juga: IJP Lampung Gelar Halal Bihalal dan Bahas Proker
Tak pelak, semua berasumsi karir politik dan popularitasnya tumpas. Usai membayar kontan kesalahannya, Firman taubatan nasuha.
"Saat terpuruk, tak ada lagi kawan yang datang. Malah isteri yang sabar mendampingi," Firman malu dan tersadar, kemilau duniawi itu palsu. Orang yang peduli adalah dia yang datang saat terpuruk.
Kisah itu diceritakannya saat baru keluar, saat berceritapun tak jauh duduk pengawas mendampingi. Tapi Firman cerita dengan senyum. Baca juga: Irjen. Pol Suntana Beri Bantuan Ponpes Darul Islah
Berikutnya Firman hijrah, semua jas dan baju mahalnya dilepas, kemana-mana dia pakai gamis, sisa pendidikannya diselesaikan, Firman pulang kandang ke kampus. Belakangan dia jadi rektor.
Saat ini Firman masuk radar tokoh-tokoh yang terbuka peluang masuk bursa pilkada di Bandarlampung. Rumornya dulu Firman sudah dikontak oleh petahana. Mau dijodohkan dengan jagonya petahana itu.
Tak dinyana, komunikasi politik tak melulu bicara sekali jadi. Bandul politik perlu momentum, ayunannya boleh jadi tak terprediksi. Bermodal jaringan, determinasi dan tentu saja investasi sosial-politik sedari dulu itu, tabulasi survey memosisikan Firmansyah Alfian jadi kuda hitam. Baca juga: Menteri PU Minta Walikota Bandar Lampung Normalisasi Sejumlah Sungai dan ...
Beberapa hari lalu dia dengan penuh percaya diri merilis pernyataan, siap maju bahkan melalui jalur yang paling terjal. Firmansyah jadi calon pertama yang mengumumkan siap maju lewat jalur perseorangan. Dia mengaku sedang menumpuk 55 ribu biji dukungan.
Tak terbantah, akselerasi popularitas dan elektabilitas Firmansyah Alfian salah satu yang paling melejit dibanding tokoh-tokoh yang lain.
Publik perlu pilihan. Publik perlu keluasan atmosfer saat pilkada. Harus diakui saat ini konstelasi politik di Bandarlampung mengarah dikotomik antara poros Eva Dwiyana vs Rycko Menoza. Baca juga: Gubernur Serahkan Bantuan Hewan Ternak di Lamsel
Kalau Firman benar-benar merealisasikan tekadnya maju bermodal 55 ribu cacah dukungan warga sebagai Calon Walikota lewat jalur perseorangan, maka kuda hitam lah dia.
Tabik pun, nabik tabik. Sikandu kilu mahap. Numpang liyu puuuuuuu.
JL. Sultan Agung No.43 Sepang Jaya, Labuhan Ratu, Bandarlampung.
Hotline/Whatsapp : 62 812-7466-6699/ 085279409444
Email : weblenews@gmail.com