Bandarlampung, LE - Korban penggusuran eks Pasar Griya Sukarame atau yang biasa dikenal kampung pemulung kembali melakukan unjuk rasa di depan Kantor Pemkot Bandarlampung, Selasa (14/8/2018).
Puluhan massa tersebut terlihat mengenakan seragam dan membawa payung berwarna hitam sebagai lambang dari keprihatinan dan menyampaikan bahwa mereka sedang berduka. Baca juga: Di Monumen Pers, Pemerintah Janji Perkuat Sinergi dengan PWI
Menurut Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Lampung, Kristina Tia Ayu, hingga kini korban penggusuran eks Pasar Griya Sukarame masih menetap di Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandarlampung, dengan total 28 kepala keluarga.
Mirisnya menurut dia, Pemkot Bandarlampung masih enggan untuk ditemui apalagi menyelesaikan pesoalan warga pasca penggusuran. "Sampai detik ini nasib warga sudah tidak menentu, karena rumah mereka digusur sehingga akses untuk mencari kebutuhan hidup sehari-hari sudah tidak ada lagi, akses pendidikan anak-anak mereka terganggu," beber Kristin.
Untuk itu, Komite Tolak Penggusuran (KTP) melakukan unjuk rasa dan memaksa pemkot bertanggung jawab atas penggusuran yang dinilai sewenang-wenang yang membuat masyrakat kian melarat. Baca juga: Celvien Anshara Wujudkan Dedikasi Sosial sebagai Konsultan Lingkungan
Sementara itu, salah seorang warga eks Pasar Griya, Mua'ad meminta agar Pemkot Bandarlampung bersedia menemui warga untuk berdiskusi dan mencari solusi. "Kemudian kami juga menuntut agar pemerintah memberikan kami tempat tinggal sementara yang layak, pekerjaan yang layak dan pendidikan yang layak bagi anak-anak kami," tandasnya. (rif)
JL. Sultan Agung No.43 Sepang Jaya, Labuhan Ratu, Bandarlampung.
Hotline/Whatsapp : 62 812-7466-6699/ 085279409444
Email : weblenews@gmail.com