Bandarlampung, LE— Seorang siswi kelas XII SMAN 9 Bandarlampung, berinisial MR, sudah dua pekan tidak masuk sekolah. Sang ibu, Endang, menyebut putrinya mengalami depresi setelah menjadi korban perundungan (bullying) dari teman-teman sekelasnya.
“Dia sudah dua minggu tidak mau masuk sekolah. Sudah saya paksa, tapi tetap tidak mau. Saya lihat dia depresi,” kata Endang dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di rumahnya, Gang Harimau 5, Kelurahan Sukamenanti Baru, Kecamatan Kedaton, Senin (15/9). Baca juga: Pemkab Lampung Selatan Matangkan Arah Pembangunan Lima Tahun ke Depan
Menurut Endang, MR sempat menceritakan bahwa dirinya mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman sekelas, termasuk mantan ketua kelas berinisial ATF. Endang menilai pihak sekolah belum menunjukkan iktikad serius menyelesaikan persoalan tersebut.
“Saya dengar orang tua pelaku mau datang ke rumah, tapi sampai sekarang tidak pernah. Saat saya konfirmasi ke sekolah, guru BK malah bilang tidak ada yang membully anak saya,” ujarnya.
Endang juga menyayangkan sikap sekolah yang dinilai kurang peduli. “Murid sudah dua minggu tidak masuk sekolah, seharusnya pihak sekolah menanyakan. Tiga hari saja biasanya ditanyakan, tapi ini tidak ada,” ucapnya. Baca juga: TKSCI Deklarasikan Korwil Tulangbawang dan Tulangbawang Barat
Dikonfirmasi terpisah, MR mengaku sering diejek dengan sebutan “miskin hama” dan diledek ketika menerima bantuan makanan bergizi (MBG). Ia juga disebut-sebut enggan diterima dalam kelompok belajar oleh teman-temannya.
“Yang paling menyakitkan, saya difitnah hamil. Itu benar-benar merusak mental saya,” tutur MR dengan berlinang air mata.
Ia menambahkan, tekanan tersebut membuat dirinya sempat depresi. “Saya berharap bullying ini segera dihentikan. Saya takut kalau ada anak lain yang tidak kuat, bisa nekat bunuh diri,” ujarnya. Baca juga: Dinas Koperasi dan UKM Way Kanan Adakan Pelatihan Terhadap Koperasi Desa ...
Bantahan Pihak Sekolah
Kepala SMAN 9 Bandarlampung, Dra Hayati Nufus, M.Pd, membantah adanya kasus perundungan di sekolah tersebut. Ia menegaskan, pihak sekolah sudah berkomunikasi dengan orang tua MR terkait absensi putrinya.
“Kami ingin meluruskan bahwa berita itu tidak benar kalau ada bullying. Sekolah tidak pernah menutup-nutupi,” kata Hayati. Baca juga: Lewat Zoom, Pemuda Asal Nepal ini Jadi Dosen Tamu di Kampus Biru
Menurut Hayati, pada 28 Agustus lalu, guru bimbingan konseling (BK) telah menghubungi orang tua MR untuk menanyakan kehadiran anaknya. Saat itu, orang tua menyebut MR sudah berangkat ke sekolah bersama teman-temannya. Namun, ternyata ia tidak hadir di kelas.
“Jadi kalau dibilang sekolah tidak menghubungi orang tua itu tidak benar. Faktanya, guru BK kami sudah menghubungi. Kami punya catatannya,” ujarnya.
Hayati menambahkan, sekolah telah melakukan berbagai upaya pencegahan bullying melalui sosialisasi pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) maupun saat upacara bendera. Baca juga: Sebulan Pasca Dibangun Jembatan Mulyo Jadi Terancam Ambruk
“Kami terus mengingatkan siswa bahwa bullying tidak diperbolehkan di sekolah. Guru BK juga berperan menjembatani jika ada masalah siswa,” kata dia.
Meski membantah adanya kasus bullying, pihak sekolah menyatakan tetap membuka ruang komunikasi. “Kami tidak ingin ada kesalahpahaman. Yang jelas, setiap persoalan siswa akan kami tindaklanjuti sesuai prosedur,” tegasnya. (san/red)
JL. Sultan Agung No.43 Sepang Jaya, Labuhan Ratu, Bandarlampung.
Hotline/Whatsapp : 62 812-7466-6699/ 085279409444
Email : weblenews@gmail.com