Warga Bandarlampung Dinyatakan Covid-19

Metropolis Kamis, 03 Desember 2020    RIFKI MARFUZI

Ilustrasi corona


Bandarlampung, LE
Beredar informasi warga Kecamatan Enggal, Bandarlampung Lampung bernama AD (56) yang meninggal dunia di Rumah Sakit Graha Husada Bandarlampung, diminta untuk menandatangani surat pernyataan terjangkit Covid-19 karena tidak mempunyai biaya untuk menebus pengobatan. 

Sebelumnya pasien tersebut diminta menebus uang Rp22 juta, untuk bisa dibawa pulang dan dimakamkan.

Baca juga: KRLUPB Demo di Jakarta, Kuasa Hukum Arinal-Nunik: Fitnah TSM Semakin Terk...

Saat ditemui awak media, adik pasien bernama Ris (40) mengatakan, sebelumnya pasien tersebut dirawat di rumah hampir dua minggu. 

Kemudian dibawa ke rumah sakit, lalu masuk ke Ruang Unit Gawat Darurat (UGD), dan dilakukan rapid tes dengan hasil reaktif Covid-19.

"Kemudian dikasih obat, karena kakak saya ini punya riwayat penyakit gula darah. 

Baca juga: Riana Buka Seminar Dampak Negatif Rokok Bagi Remaja

Kemudian pada 26 November 2020, dilakukan pengambilan swab yang hingga kini belum diketahui hasilnya. 

Tiga hari setelah swab, tepatnya Senin (30-11/2020) kakak saya meninggal dunia," kata Ris kepada Lampung Ekspres yang di lansir Lampungpro, Selasa (1-12/2020).

Setelah itu pihak rumah sakit menanyakan ke keluarga, apakah akan menunggu hasil swab atau akan dimakamkan langsung. 

Baca juga: Brimobda Lampung Bantu Anak Terdampak Covid-19

Lalu pihak keluarga meminta untuk dibawa langsung tanpa protokol kesehatan, dan pihak rumah sakit mengeluarkan rincian administrasi yang harus ditebus senilai Rp22 juta.

"Dalam rincian tersebut, ada biaya barang habis pakai (BHP) yang nilainya Rp9 juta lebih, ini yang bikin kami berat. 

Kami bingung mencari dana, kemudian berunding lagi apakah ada dispensasi. Kalau mau Covid-19, pasien baru bisa keluar tanpa biaya," ujar Risna.

Baca juga: Kepala Badan Litbang Kemendagri Apresiasi Inovasi dan Kemajuan Tubaba

Saat masuk UGD, keluarga disuruh tanda tangan bahwa pasien mengarah ke Covid-19. 

Kalau tidak, maka tidak mendapat ruangan, sementara kondisi pasien sudah lemah. 

Hingga akhirnya keluarga memutuskan, untuk membawa pulang pasien dengan protokol Covid-19, namun saat pemakaman keluarga boleh menghadiri.

Baca juga: Firmansyah - Bustomi Dukug Wacana Penundaan Pilkada 2020

Terpisah, pihak Rumah Sakit Graha Husada melalui dokter yang menangani pasien tersebut Diki Suseno mengungkapkan, sejak awal masuk ke rumah sakit, pasien ini kriterianya memang mengarah ke Covid-19. 

Makanya pihak rumah sakit, menyarankan keluarga untuk dites swab, karena kebetulan hasil rapid tes juga reaktif.

"Awalnya keluarga menolak untuk di swab, hingga akhirnya sehari kemudian setuju di swab dan langsung dikirim ke Labkesda Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. 

Baca juga: Update Covid-19 di Provinsi Lampung, Kasus Positif Tambah 2 Orang

Pada perjalanannya, kami audah membreikan terapi, hal ini semakin diperparah dengan perjalanan penyakit, ditambah hasil klinis dan foto rontgen ada pneumonia," ungkap dokter Diki.

Dengan kondisinya yang semakin menurun, hingga meninggal kategori probable Covid-19, maka semua pembiayaan akan ditanggung Kementerian Kesehatan. 

Namun apabila pihak keluarga menolak dilakukan secara Covid-19, maka tidak ada tanggungan dan biaya ditanggung sendiri.

Baca juga: Wakil Walikota Jambi Serahkan Bantuan Rp265 Juta untuk Korban Tsunami Lam...

"Atas dasar ini, maka biaya akan dibebankan ke pasien. Inilah yang terjadi kesalahpahaman antara pihak keluarga dengan rumah sakit. 

Untuk BPJS Kesehatan, apabila masuk protokol Covid-19, maka dia tidak akan menanggung. Keluarga sempat menolak, setelah itu baru dijelaskan hingga menerima," jelas Diki. (LE-zahdi)
 

Tags : 
               
Komentar Anda
Artikel Terkait

PT GMI / PT GJM

JL. Sultan Agung No.43 Sepang Jaya, Labuhan Ratu, Bandarlampung.
Hotline/Whatsapp : 62 812-7466-6699/ 085279409444
Email : weblenews@gmail.com